Deposito Bank Swasta Turun, Himbara Genjot 63,75% demi Jaga Likuiditas

Deposito Bank Swasta Turun, Himbara Genjot 63,75% demi Jaga Likuiditas

EKONOMIBERDAYA.COM — Deposito bank swasta besar tercatat turun hingga dua digit, sementara kelompok Himpunan Bank Milik Negara justru mencatat lonjakan deposito sampai 63,75% secara tahunan. Perbedaan arah strategi ini muncul di tengah upaya menekan biaya dana atau cost of fund (CoF) yang masih mahal. Data Bank Indonesia menunjukkan DPK perbankan tumbuh 7,7% yoy menjadi Rp 9.666,9 triliun hingga Juli 2026.

Pertumbuhan tertinggi datang dari giro yang naik 10,5% yoy menjadi Rp 3.055,6 triliun, sedikit lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya sebesar 10,2% yoy. Tabungan tumbuh 8,2% yoy menjadi Rp 3.182,1 triliun, sama dengan pertumbuhan bulan sebelumnya.

Deposito hanya tumbuh 4,8% yoy menjadi Rp 3.429,1 triliun. Angka itu melambat dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 6,2% yoy.

Deposito BCA hingga CIMB Niaga Menyusut

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat deposito berkurang 4,3% yoy menjadi Rp 182,62 triliun per Agustus 2026. Meski begitu, total DPK BCA masih tumbuh 8,33% yoy menjadi Rp 1.256,8 triliun, ditopang CASA yang naik 10,82% yoy menjadi Rp 1.074,2 triliun.

PT Bank CIMB Niaga Tbk mencatat deposito turun 12,52% yoy menjadi Rp 69,1 triliun per Juli 2026. CASA perseroan tumbuh 7,14% yoy menjadi Rp 189,4 triliun, sehingga total DPK masih naik tipis 1,06% yoy menjadi Rp 258,5 triliun.

PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga mencatat deposito turun 7,04% yoy menjadi Rp 48,2 triliun per Juli 2026. CASA Maybank tumbuh 19,93% yoy menjadi Rp 81,52 triliun, membuat total DPK tetap tumbuh 8,26% yoy menjadi Rp 129,73 triliun.

Himbara Kejar Deposito demi Biayai Ekspansi Kredit

Bank Mandiri mencatat deposito tumbuh 47,77% yoy menjadi Rp 501,4 triliun hingga Agustus 2026. CASA perseroan tumbuh 8,21% yoy menjadi Rp 1.185,7 triliun, sehingga total DPK naik 17,56% yoy menjadi Rp 1.687,2 triliun.

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mencatat lonjakan deposito 63,75% yoy menjadi Rp 389,9 triliun. CASA BNI tumbuh 16,44% yoy menjadi Rp 734,7 triliun, dengan total DPK naik 29,4% yoy menjadi Rp 1.124,7 triliun.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatat deposito naik 9,61% yoy menjadi Rp 547,03 triliun. CASA BRI tumbuh 11,73% yoy menjadi Rp 1.070,2 triliun, membuat total DPK meningkat 11% yoy menjadi Rp 1.617,2 triliun.

Ekosistem Dana Pemerintah Jadi Pembeda

Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman menilai Himbara unggul karena memiliki ekosistem dana pemerintah, BUMN, payroll, dan korporasi besar yang relatif captive. Menurutnya, daya serap likuiditas Himbara jadi lebih kuat karena faktor itu.

Rizal menyebut penjaringan deposito yang masif di Himbara sejalan dengan kebutuhan pendanaan di tengah agresivitas ekspansi kredit. Penguatan DPK dibutuhkan untuk menjaga likuiditas perseroan.

"Jadi, deposito yang tinggi bukan hanya tanda kekuatan funding, tetapi konsekuensi dari neraca yang sedang berekspansi," kata Rizal kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Ia menyebut perbedaan tren deposito Himbara dan bank swasta bakal ditentukan empat variabel: arah suku bunga acuan, spread bunga deposito, pertumbuhan kredit dibanding DPK, serta penempatan dana pemerintah dan korporasi.

Bank swasta bisa saja menaikkan bunga dalam pricing deposito, tetapi pergeseran dana tetap sulit terjadi jika dana institusional masih terkonsentrasi di Himbara. Rizal menilai yang perlu dicermati adalah apakah konsentrasi likuiditas mulai mengubah biaya dana, distribusi kredit, dan keseimbangan kompetisi industri perbankan.

Strategi CASA demi Tekan Biaya Dana

Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan menyebut deposito hanya salah satu produk dalam DPK untuk menjaga likuiditas. Perseroan lebih memfokuskan diri ke CASA dengan pertimbangan CoF yang lebih rendah.

"Maka rasio CASA kami saat ini di kisaran 72% dan kami jaga di atas 70%," tutur Lani.

Lani menambahkan kondisi harga DPK saat ini masih mahal, belum lagi memperhitungkan potensi kenaikan suku bunga ke depan. Yang terpenting bagi bank adalah menjaga likuiditas di level yang sehat dan efisien.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index