KIW Pacu Integrasi Ekosistem Danareksa, 60% Investasi dari PMA

Minggu, 20 September 2026 | 05:28:00 WIB
KIW Pacu Integrasi Ekosistem Danareksa, 60% Investasi dari PMA

EKONOMIBERDAYA.COM — PT Kawasan Industri Wijayakusuma mempercepat integrasi ekosistem bisnis di bawah holding Danareksa guna mendongkrak daya saing investasi nasional. Realisasi investasi di kawasan pelat merah itu kini didominasi Penanaman Modal Asing sebesar 60%, sementara PMDN menyumbang 40%. Seluruh tenant baru yang masuk dalam dua tahun terakhir berasal dari investor asing.

Langkah strategis itu ditegaskan di tengah rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-38 perusahaan yang diperingati pada 7 Oktober 2026. Direktur Utama KIW Rezza Arief Budy Artha menilai keberadaan holding memicu percepatan integrasi bisnis antar-kawasan industri.

"Kita gak boleh ketinggalan, itu pertama. Yang kedua dengan berbagai macam kawasan yang ada ini saya kira juga akan menjadi menarik bagi calon investor," ujarnya pada Sabtu (19/9/2026).

Variasi Karakter Kawasan Jadi Nilai Tawar

Rezza menjelaskan, keragaman karakter kawasan di Indonesia memberi keunggulan kolektif yang memperkuat posisi tawar terhadap negara lain. Calon investor bisa memilih lokasi sesuai kebutuhan operasional, mulai dari kedekatan dengan pelabuhan, rencana pembangunan dry port, hingga pasokan listrik berkapasitas ratusan megawatt.

Kawasan Semarang dan sekitarnya juga menawarkan ketersediaan tenaga kerja melimpah dengan upah yang masih kompetitif.

"Jadi orientasinya memang sudah melihat tidak cuma dalam konteks Jawa Tengah apalagi Semarang. Justru itu menjadi alasan kenapa ada pembentukan holding, Karena arahnya adalah kita ini menyatukan resource kita, untuk sharing sumber daya satu sama lain," kata Rezza.

Integrasi Rantai Pasok Tekan Biaya Manufaktur

Dari sisi operasional, KIW memfokuskan diri meningkatkan integrasi rantai pasok antar-tenant untuk menekan biaya produksi. Direktur Pengembangan dan Operasional KIW Sugeng Riyanto mengungkapkan, integrasi bahan baku antar-pabrik dalam kawasan menciptakan efisiensi produksi yang tinggi.

"Harapannya dengan tenan 1 produksi A, tenan 2 ternyata butuh bahan baku itu, maka ekosistemnya masuk. Harapannya ini benar-benar tumbuh bersama dengan biaya yang efisien untuk tenan-tenan, sehingga selain bermanfaat untuk tenan eksisten juga akan membawa tenan-tenan baru, karena memang ekosistemnya sudah ada di dalam kawasan ini," tutur Sugeng.

Sugeng menambahkan, investor asing mendominasi seluruh masuknya tenant baru dalam dua tahun terakhir. Komposisi itu menegaskan posisi KIW sebagai pintu masuk investasi asing di kawasan industri Jawa Tengah.

Ekspansi BPSP dan Lahan Siap Bangun

Pada momentum HUT ke-38, KIW menyiapkan ekspansi Bangunan Pabrik Siap Pakai untuk melengkapi fasilitas yang sudah ada seluas 61.940 m². Perusahaan juga menyediakan lahan siap bangun seluas 250 hektare.

"Kami tetap merencanakan ada tambahan Bangunan Pabrik Siap Pakai (BPSP), karena memang BPSB itu sangat diminati oleh calon-calon investor yang akan masuk ke dalam KIW," ungkap Sugeng.

Penambahan BPSP dinilai krusial untuk mempercepat proses masuknya tenant baru. Pasalnya, investor kerap membutuhkan fasilitas produksi yang bisa langsung dipakai tanpa menunggu pembangunan dari nol.

Keberlanjutan Sosial di Sekitar Kawasan

Selain penguatan bisnis, KIW menjaga keseimbangan keberlanjutan melalui kontribusi sosial kepada masyarakat sekitar kawasan. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko KIW Yogi Putra Wijaya menegaskan, pertumbuhan usaha harus memberikan nilai tambah lingkungan.

"Bagi KIW, keberlanjutan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian kinerja bisnis, tetapi juga dengan bagaimana perusahaan dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan. Kegiatan seperti sembako murah, pemeriksaan kesehatan gratis, dan donor darah merupakan bentuk nyata komitmen kami untuk terus menghadirkan manfaat bagi masyarakat sekitar," papar Yogi.

Bagi calon investor, integrasi di bawah Danareksa membuka akses ke jaringan kawasan industri yang lebih luas. Skema berbagi sumber daya antar-kawasan berpotensi memangkas biaya logistik dan mempercepat waktu realisasi investasi.

Terkini