EKONOMIBERDAYA.COM — Pertemuan H20 atau Halal 20 mendorong kesepakatan saling pengakuan sertifikasi halal antarnegara, dengan pembahasan ASEAN Halal Council masuk dalam agenda. Dorongan ini muncul sebagai bagian dari rangkaian forum internasional yang membahas standardisasi produk halal lintas yurisdiksi.
Dorongan saling pengakuan ini menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam forum H20. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperlancar perdagangan produk halal lintas negara.
Mengapa Saling Pengakuan Sertifikasi Halal Jadi Kunci
Setiap negara memiliki lembaga sertifikasi halal dengan standar dan prosedur berbeda. Perbedaan ini sering menjadi hambatan non-tarif dalam perdagangan produk halal.
Dengan saling pengakuan, produk yang sudah bersertifikat halal di satu negara bisa lebih mudah diterima di negara lain. Proses verifikasi ulang yang selama ini memakan waktu dan biaya bisa dipangkas.
H20 melihat harmonisasi standar sebagai jalan keluar dari fragmentasi regulasi halal global. Forum ini mendorong negara-negara untuk menyepakati kerangka saling pengakuan yang saling menguntungkan.
Posisi ASEAN Halal Council dalam Arsitektur Kerja Sama
ASEAN Halal Council dibahas sebagai kendaraan kerja sama di tingkat regional. Badan ini diharapkan menjadi wadah koordinasi kebijakan halal antarnegara anggota ASEAN.
Pembentukan ASEAN Halal Council akan mempermudah negosiasi saling pengakuan karena negara-negara Asia Tenggara bisa berbicara dengan satu suara. Pasar halal ASEAN yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi mitra dagang di luar kawasan.
Sejumlah negara ASEAN sudah memiliki otoritas halal masing-masing dengan tingkat kematangan berbeda. Kehadiran council dinilai bisa membantu negara yang masih mengembangkan sistem sertifikasinya.
Tantangan yang Menghadang di Tingkat Implementasi
Jalan menuju saling pengakuan tidak mulus. Perbedaan standar syariah, metode audit, dan kapasitas lembaga sertifikasi antarnegara masih menjadi ganjalan.
Negara dengan mayoritas penduduk non-Muslim punya pendekatan berbeda dalam menangani produk halal. Mereka umumnya fokus pada kebutuhan konsumen Muslim domestik, bukan pada ekspor produk halal.
Kepercayaan antar lembaga sertifikasi juga menjadi faktor penentu. Tanpa mekanisme pengawasan bersama yang kredibel, saling pengakuan berisiko menurunkan standar yang sudah ada.
Apa yang Ditunggu dari Pembahasan H20
Pembahasan di H20 diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret bagi para pembuat kebijakan. Rekomendasi ini nantinya bisa dibawa ke forum yang lebih tinggi tingkatannya.
Jika ASEAN Halal Council terealisasi, kawasan Asia Tenggara bisa menjadi contoh kerja sama halal lintas negara. Negara lain di luar kawasan disebut bisa meniru model serupa.
Yang masih ditunggu adalah kesepakatan resmi soal kerangka saling pengakuan itu sendiri. Sampai saat ini, pembahasan masih berlangsung di tingkat forum dan belum ada penandatanganan kesepakatan.
Perkembangan berikutnya akan terlihat dari apakah H20 mampu mendorong negara-negara peserta untuk mengadopsi standar bersama. Tanpa komitmen politik di tingkat tertinggi, saling pengakuan sertifikasi halal akan tetap menjadi wacana.