Sentimen S&P Dow Jones Tekan Bursa RI, IHSG Merosot ke 5.873

Sentimen S&P Dow Jones Tekan Bursa RI, IHSG Merosot ke 5.873
Pasar Saham RI Tertekan, IHSG Parkir di Level 5.873 Sore Ini [FOTO: NET].

JAKARTA – Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir sesi perdagangan hari ini, Rabu (8/7/2026). Melempemnya pasar modal domestik selaras dengan rilis surat dari lembaga pembuat indeks S&P Dow Jones Indices terkait ancaman penurunan kasta pasar ekuitas Indonesia.

Melansir data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG berakhir mengempis 1,89% menuju posisi 5.873,37. Sepanjang hari, pergerakan indeks bergulir pada rentang level 5.872,02—5.984,47.

Saras dengan kelesuan IHSG, sederet saham yang berafiliasi dengan konglomerat papan atas dalam negeri juga kompak bergerak melemah hari ini. 

Saham-saham kepemilikan Prajogo Pangestu, contohnya, rontok berjamaah dengan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) menyusut 4,97% ke Rp3.250, PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) terpangkas 5,06% ke Rp1.500, dan PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) terkoreksi 3,17% ke Rp610.

Selanjutnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) ikut tergerus 5,51% ke Rp600, PT Petrosea Tbk. (PTRO) merosot 4,24% ke Rp3.840, dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) anjlok 5,56% ke Rp1.785.

Kondisi serupa melanda saham Happy Hapsoro, dengan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) melemah 4,62% ke Rp825, PT Sanurhasta Mitra Tbk. 

(MINA) turun 3,57% ke Rp270, PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) terdepresiasi 4,85% ke Rp3.920, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) menyusut 5,91% ke Rp5.175.

Deretan emiten Anthoni Salim pun tak luput dari tren pelemahan, dengan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) tergerus 1,49% ke Rp6.625, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) menyusut 1,50% ke Rp6.575, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) melemah 0,95% ke Rp520.

Risiko S&P Dow Jones

Sebelumnya, S&P Dow Jones Indices (S&P DJI) memasukkan pasar modal Indonesia ke dalam daftar pantauan 2027 Country Classification Watchlist seiring dengan berlanjutnya monitoring atas keterbukaan kepemilikan saham serta dinamika regulasi di pasar modal dalam negeri.

Lembaga penyedia indeks global tersebut bahkan membuka celah bagi pengaplikasian special measures bagi emiten-emiten asal Indonesia jika situasi kian memburuk, berupa penurunan kasta klasifikasi dari Emerging Market ke Frontier Market.

Dalam berkas S&P Dow Jones Indices Country Classification – 2026/2027 Watchlist yang dipublikasikan pada Rabu (8/7/2026), Indonesia didata masih memegang status Emerging Market, tetapi masuk ke daftar pantauan atas kemungkinan modifikasi kasta menjadi Special Measures/Frontier pada proses ulasan tahunan 2027.

"S&P DJI terus memantau perkembangan terkait transparansi kepemilikan saham di Indonesia. Apabila situasi memburuk, S&P DJI dapat mempertimbangkan penerapan perlakuan khusus (special treatment) terhadap saham-saham Indonesia," demikian dikutip dari dokumen S&P Dow Jones Indices Country Classification – 2026/2027 Watchlist.

S&P DJI menegaskan terus mengawasi progres seputar keterbukaan informasi kepemilikan saham di Indonesia, termasuk penerapan pedoman teknis Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirancang untuk merespons problem transparansi kepemilikan modal serta efek dominonya pada tingkat likuiditas pasar.

Lembaga internasional pembuat indeks itu menggarisbawahi sekiranya keadaan memburuk, S&P DJI membuka ruang untuk menerapkan special treatment bagi emiten-emiten tanah air.

Menilik metodologi penentuan klasifikasi negara yang dipraktikkan S&P DJI, apabila problem bersangkutan gagal dituntaskan dalam tenggat satu tahun pasca-special measures diberlakukan, status pasar saham Indonesia bakal langsung ditinjau ulang pada evaluasi tahunan berikutnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index