IHSG Diproyeksi Menguat Jumat Ini, Simak Sentimen Pendorongnya

Jumat, 18 September 2026 | 19:01:31 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) [FOTO: NET].

JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak positif pada perdagangan Jumat (18/9/2026). Sentimen eksternal dinilai menjadi pendorong indeks di tengah pelaku pasar yang mulai mencerna arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa secara teknikal IHSG mulai masuk ke fase pemulihan setelah membentuk pola “wave [iv]”.

“Sejatinya, struktur bullish masih berlaku,” kata Nafan dalam risetnya, Jumat (18/9/2026).

Menurutnya, beberapa indikator teknikal lain juga masih mengindikasikan sinyal positif. Moving Average (MA) 20 dan MA 60 berada dalam kondisi bullish crossover yang disokong oleh kenaikan volume perdagangan. 

Walau demikian, Nafan mencatat indikator Stochastics K_D serta Relative Strength Index (RSI) masih memperlihatkan sinyal negatif.

Nafan memperkirakan area support IHSG berada di posisi 6.371 dan 6.290, sedangkan area resistance di level 6.566 dan 6.636.

“sentimen IHSG pada Jumat, 18 September 2026 diperkirakan cenderung positif terutama dari sisi eksternal,” jelasnya.

Pasar mulai merespons serta mencerna kepastian kebijakan moneter The Fed. Bank sentral AS sebelumnya telah mengumumkan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen-4 persen, yang merupakan kenaikan pertama sejak 2023.

Awalnya, keputusan tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran pasar karena dianggap mencerminkan sikap hawkish atau cenderung ketat. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang menegaskan masih tingginya tingkat inflasi turut menjadi sorotan investor.

Kendati demikian, menurut Nafan, ketidakpastian itu mulai berkurang. Pelaku pasar menilai tindakan tegas The Fed mampu memperkuat kredibilitas bank sentral dalam mengendalikan inflasi tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi secara drastis.

“Sehingga mendorong market euphoria,” jelas dia.

Di samping itu, penguatan pasar saham disokong oleh penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun yang mulanya tinggi mengalami penurunan, sehingga memberikan ruang bagi kenaikan saham-saham berbasis pertumbuhan (growth stocks). Yield US Treasury 10 tahun melorot 1,30 persen menjadi 4,939 persen, sementara yield US Treasury tenor 30 tahun turun 1,08 persen ke level 5,290 persen.

Penurunan harga minyak mentah juga ikut meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap tekanan inflasi. Harga minyak mentah Brent tercatat turun 1,56 persen menjadi 104,18 dollar AS per barrel.

 Penurunan tersebut dipicu oleh prospek pemulihan pipa minyak East-West di Arab Saudi, yang berpotensi mengurangi kecemasan pasar atas tekanan inflasi dari komoditas energi.

Harga minyak menjadi perhatian pasar sebab lonjakan harga energi sebelumnya meningkatkan kekhawatiran inflasi akan berlangsung lebih lama, yang berpotensi memicu The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam durasi lebih panjang. Oleh sebab itu, melandainya yield US Treasury dan harga minyak memberi sentimen positif untuk pasar saham.

Namun, faktor domestik masih menjadi penahan laju IHSG. Salah satunya pergerakan nilai tukar rupiah yang masih tertekan. Mata uang garuda pada Kamis kemarin terdepresiasi 0,32 persen ke level Rp 17.753 per dollar AS. Pelemahan kurs rupiah dapat membatasi pergerakan IHSG karena meningkatkan sensitivitas investor terhadap risiko arus modal asing dan stabilitas makroekonomi.

Selain itu, pelaku pasar mulai mengantisipasi rapat kebijakan Bank Indonesia (BI) yang digelar pekan depan, sehingga investor berpotensi mengambil sikap wait and see terhadap arah suku bunga domestik.

Faktor lain yang dicermati pada perdagangan Jumat adalah rebalancing indeks FTSE Russell untuk Indonesia. Rebalancing dilakukan berdasarkan harga penutupan perdagangan Jumat (18/9/2026), sedangkan perubahan komposisi indeks baru berlaku pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026). Menurut Nafan, situasi ini berpotensi meningkatkan volume dan volatilitas perdagangan pada Jumat menjelang penyesuaian portofolio.

Sebelumnya, pelaku pasar telah mengantisipasi dua agenda utama yang memengaruhi pergerakan IHSG sepanjang pekan ini, yaitu keputusan kebijakan The Fed dan rebalancing FTSE Russell.

Untuk strategi investasi, Nafan menyarankan investor melakukan akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental solid, saham bervaluasi relatif murah, serta saham yang mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah. Ia juga mengingatkan investor agar tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin di tengah potensi volatilitas pasar.

Tags

Terkini