Cara Negara Rangkul Anak Muda Lewat Tes Psikologi & Konseling Sebaya

Kamis, 09 Juli 2026 | 04:11:31 WIB
Sasar Anak Muda, Pemerintah Gencarkan Konseling Sebaya & Tes Minat [FOTO: NET].

JAKARTA - Peringatan Hari Kependudukan Dunia pada 11 Juli 2026 mengusung tema besar mengenai perwujudan harapan serta cita-cita generasi muda untuk masa sekarang dan masa depan.

 Menanggapi momentum ini, pemerintah Indonesia mulai menyelaraskan pola pendekatannya terhadap kaum muda, dengan menempatkan mereka sebagai mitra strategis dalam menentukan arah kebijakan pembangunan bangsa.

Tantangan kehidupan yang dihadapi kelompok usia muda di era sekarang dirasakan kian rumit, mulai dari problem kesehatan mental, proteksi terhadap hak individu, hingga kebingungan dalam memproyeksikan jenjang studi lanjut serta pilihan karier.

 Demi menjawab kebutuhan krusial tersebut, pemerintah berkomitmen untuk membuka ruang-ruang dialog interaktif guna menyerap segala keluh kesah serta permasalahan anak muda.

"Generasi muda bukan subjek pembangunan saja, tapi mitra merancang masa depan demografi. Kami lakukan diskusi-diskusi dengan anak muda, apa sih yang menjadi aspirasi mereka?" ujar Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga), Bonivasius Prasetya Ichtiarto, di Kantor Kemendukbangga, Jakarta, Rabu (8/7/2026).

Menjaga Kesejahteraan Mental serta Prospek Masa Depan Generasi Muda

Guna memberikan pendampingan bagi para siswa yang masih dilanda kebimbangan dalam memilih jurusan saat hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi, pemerintah berencana menerapkan program tes psikologi melalui skema Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) yang menyasar para murid di tingkat sekolah menengah. Program kerja ini dijadwalkan mulai bergulir pada tahun depan.

"Anak-anak muda di SSK memang belum semuanya itu kami lakukan tes psikologisnya mereka. Ada yang terkait dengan pencegahan deteksi dini kesehatan mentalnya, termasuk juga minat bakat mereka apa," ungkap Bonivasius.

Upaya pemetaan potensi kompetensi ini sudah mulai berjalan pada tahun ini agar para remaja memiliki arah serta gambaran yang lebih transparan mengenai potensi diri yang mereka miliki.

 Melalui program evaluasi tersebut, kementerian terkait berupaya untuk mencetak generasi penerus yang kompetitif sebelum akhirnya terjun ke kancah dunia kerja yang sesungguhnya.

Penyediaan Ruang Aman Melalui Konseling Sebaya

Ditambahkan oleh Wamendukbangga Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, program layanan konseling bagi remaja di lingkungan sekolah akan terus diperluas jangkauannya.

"Kami tahu kadang-kadang remaja itu agak enggan berkomunikasi dengan orangtua. Mereka lebih nyaman berkomunikasi dengan teman sebaya," tutur Wamendukbangga.

Pihak pemerintah kini tengah memperlebar cakupan program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta program Generasi Berencana (GenRe). 

Program-program ini dirancang untuk memfasilitasi para remaja agar dapat saling bertukar cerita secara terbuka, sekaligus sebagai sarana edukasi untuk menjauhi penyalahgunaan narkotika dan meminimalisir pernikahan di bawah umur.

"PIK-R ini terus kami coba tingkatkan agar makin banyak sekolah berpartisipasi, agar jika ada masalah sejak dini mereka bisa menyampaikannya bersama kepada teman-teman sebayanya," ucap Isyana.

Layanan ini tidak sebatas menjadi wadah curahan hati antar-teman semata, karena di dalam ekosistem program ini juga disediakan fasilitas rujukan ke tenaga ahli profesional di bidang kesehatan mental.

"Kalau memang permasalahannya ternyata sudah membutuhkan penanganan, tidak boleh malu untuk datang ke fasilitas yang lebih lanjut untuk merujuk mereka ke psikolog," papar Isyana.

Integrasi Kurikulum Kesehatan Reproduksi

Di samping bimbingan dari aspek psikologis, bekal persiapan dalam memasuki fase kedewasaan juga menuntut adanya pemahaman yang komprehensif serta tepat mengenai kesehatan reproduksi.

Langkah dalam merencanakan masa depan memiliki keterkaitan erat dengan aspek kesiapan fisik, terlebih bagi kaum perempuan yang memendam risiko kesehatan cukup tinggi apabila harus mengalami kehamilan pada usia yang tergolong sangat muda. 

Guna menyusun formulasi materi edukasi yang selaras dengan konteks budaya lokal, lembaga internasional turut menjalin kemitraan dengan instansi pendidikan serta organisasi kemasyarakatan di Indonesia.

"Kami bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Muhammadiyah, dan NU untuk mengintegrasikan kesehatan reproduksi remaja ke dalam kurikulum nasional mereka," terang perwakilan United Nations Population Fund (UNFPA) di Indonesia, Hassan Mohtashami.

Bahan ajar edukasi ini dipersiapkan untuk diaplikasikan baik di sekolah umum maupun lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Upaya ini diharapkan mampu menekan angka penyebaran penyakit infeksi menular, sekaligus meminimalisir kasus kehamilan yang tidak direncanakan pada kelompok usia muda.

Terkini