Kolaborasi RI-China, BPOM Kawal Inovasi Vaksin Dengue Berbasis mRNA

Kamis, 09 Juli 2026 | 18:02:01 WIB
BPOM: Vaksin Dengue mRNA RI-China Perkuat Kemandirian Farmasi [FOTO: NET].

JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyatakan bahwa peluncuran prototipe vaksin dengue berbasis mRNA membuktikan kapabilitas Indonesia dalam berinovasi menghadapi tantangan penyakit menular serta memperkokoh kemandirian nasional pada sektor farmasi dan bioteknologi.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis, Kepala BPOM Taruna Ikrar menjelaskan bahwa prototipe tersebut merupakan wujud kerja sama antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, dan PT Etana, yang didukung pendanaan oleh LPDP, Kemenkes, Kementerian Sains dan Teknologi China, BRIN, serta pendampingan regulatori dari BPOM.

"Dengue masih menjadi ancaman kesehatan yang serius, baik di tingkat global maupun nasional. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang lebih cepat, adaptif, dan berbasis ilmu pengetahuan, termasuk melalui pengembangan vaksin dengue berbasis mRNA," ujar Taruna Ikrar.

Oleh karena itu, peluncuran prototipe ini dinilai sebagai tonggak krusial dalam memperkuat ekosistem riset kesehatan sekaligus implementasi kemitraan strategis Indonesia-China di bidang vaksin dan bioteknologi.

Ia menegaskan, hilirisasi riset kesehatan tidak hanya bertumpu pada peneliti dan industri, tetapi menuntut pelibatan regulator sejak tahap awal. Paradigma yang menganggap BPOM hanya berperan di tahap akhir izin edar harus segera diubah.

"Hilirisasi semua yang berhubungan dengan vaksin dan obat-obatan. Jangan berpikir BPOM hanya sebagai tukang stempel. BPOM harus dilibatkan sejak awal karena kami memahami standar, metode, dan karakteristik produk yang harus dipenuhi," katanya.

Taruna mengungkapkan banyak produk sebelumnya gagal karena BPOM baru dilibatkan di tahap akhir. Pihaknya memiliki standar regulasi global yang dapat membantu meningkatkan kualitas produk sejak awal pengembangan.

Taruna memberikan apresiasi kepada tim peneliti yang melibatkan BPOM sejak dini. Pendekatan ini diyakini mampu mempercepat pengembangan produk tanpa mengabaikan keamanan dan mutu.

"Dalam pengembangan vaksin ini, BPOM memiliki tekad untuk mendukung secara maksimal karena kami sedang berupaya menciptakan sejarah, yaitu mengembangkan vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," kata Taruna.

Sesuai Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023, BPOM melakukan pengawasan menyeluruh dari tahap penelitian, uji klinik, hingga pascapasar. Langkah ini diwujudkan melalui mekanisme pendampingan agar regulator berfungsi sebagai mitra strategis bagi pihak peneliti dan industri.

Terkini