Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah

Kamis, 15 Januari 2026 | 12:47:22 WIB
Prabowo Kumpulkan 1.200 Akademisi Nasional, Istana Jadi Pusat Dialog Ilmiah

JAKARTA — Suasana Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis pagi, 15 Januari 2025, tampak berbeda dari biasanya. Sejak pagi hari, ratusan akademisi dari berbagai penjuru Tanah Air berdatangan mengenakan jas almamater kebanggaan masing-masing. 

Mereka bukan sekadar menghadiri seremoni kenegaraan, melainkan memenuhi undangan khusus Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam sebuah pertemuan yang disebut banyak pihak sebagai peristiwa langka dan bersejarah.

Sebanyak 1.200 rektor, guru besar, dan dekan dari perguruan tinggi di seluruh Indonesia dikumpulkan langsung oleh Presiden di Istana. Pertemuan ini menjadi ruang dialog eksklusif antara kepala negara dan kalangan akademisi, khususnya dari rumpun ilmu sosial dan humaniora.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Dikti Saintek) Stella Christie menyebut agenda tersebut sebagai momen bersejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam tradisi kepemimpinan nasional.

“Ini adalah suatu yang sangat bersejarah. Ini kedua kalinya Bapak Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan rektor-rektor, guru besar, dan juga dekan. Yang pertama sudah terjadi tahun lalu, dan sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah ini, tidak pernah seorang Presiden mengumpulkan para akademisi dari universitas,” ujar Stella di Istana, Kamis.

Menurut Stella, antusiasme para akademisi sangat terasa sejak awal. Kesempatan berdialog langsung dengan Presiden dinilai sebagai bentuk penghargaan dan pengakuan negara terhadap peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan bangsa.

Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang melibatkan spektrum disiplin ilmu lebih luas, dialog kali ini secara khusus menyoroti bidang sosial dan humaniora. Stella menegaskan, fokus tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menaruh perhatian pada sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), tetapi juga pada ilmu-ilmu yang membentuk karakter, nilai, serta arah kebijakan sosial bangsa.

“Yang sudah hadir ini 1.200 pada hari ini, jadi banyak sekali yang hadir. Dan juga dikhususkan bagi bidang sosial humaniora. Jadi kalau sebelumnya itu agak umum dan juga ada kekhususan mungkin mengenai STEM, pada hari ini dikhususkan kepada bidang sosial humaniora,” kata Stella.

Ia menilai, perhatian Presiden terhadap akademisi sosial humaniora menjadi pesan penting bahwa kontribusi pemikiran di bidang tersebut sama strategisnya dalam pembangunan nasional, terutama dalam menjawab tantangan sosial, budaya, demokrasi, dan kebangsaan.

Stella juga menyampaikan bahwa para akademisi akan menerima taklimat langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Forum tersebut dirancang sebagai dialog dua arah, bukan sekadar penyampaian arahan satu arah dari pemerintah.

“Tentu saja sangat gembira sekali bahwa Bapak Presiden sangat ingin berdialog langsung dengan kami para akademisi,” ujarnya.

Dialog ini, lanjut Stella, diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pemerintah, khususnya dalam merumuskan kebijakan publik berbasis riset, kajian ilmiah, dan perspektif sosial yang mendalam.

Dari pantauan di lokasi, para akademisi mulai memadati kompleks Istana sejak pagi hari. Mereka datang dari berbagai daerah dan latar belakang institusi, mencerminkan keragaman dunia pendidikan tinggi Indonesia. Jas almamater berwarna-warni tampak mendominasi halaman Istana, menciptakan suasana yang jarang terlihat dalam kegiatan kenegaraan.

Pertemuan ini juga menegaskan gaya kepemimpinan Presiden Prabowo yang ingin membuka ruang komunikasi langsung dengan berbagai kelompok strategis, termasuk kalangan intelektual. Sebelumnya, Prabowo juga tercatat beberapa kali menggelar dialog dengan tokoh-tokoh pendidikan, peneliti, serta akademisi, baik di dalam maupun luar negeri.

Khusus bagi akademisi sosial humaniora, pertemuan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah membuka ruang kontribusi lebih besar dalam perumusan kebijakan nasional. Ilmu sosial dan humaniora dinilai memiliki peran penting dalam membaca dinamika masyarakat, menjaga kohesi sosial, serta memastikan pembangunan berjalan selaras dengan nilai-nilai kebangsaan.

Stella menekankan, perhatian negara terhadap bidang ini diharapkan mampu mendorong kampus untuk semakin aktif menyumbangkan pemikiran kritis, rekomendasi kebijakan, serta solusi berbasis riset bagi berbagai persoalan bangsa.

Pertemuan di Istana ini juga menjadi simbol pengakuan bahwa perguruan tinggi bukan hanya pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga mitra strategis negara dalam membangun masa depan Indonesia. Melalui dialog langsung dengan Presiden, diharapkan tercipta kesamaan visi antara pemerintah dan dunia akademik dalam menghadapi tantangan global dan domestik.

Dengan jumlah peserta yang mencapai 1.200 orang, agenda ini sekaligus mencatatkan diri sebagai salah satu pertemuan akademisi terbesar yang pernah digelar langsung oleh seorang Presiden di Istana Negara. Tak heran jika banyak pihak menyebutnya sebagai tonggak baru dalam hubungan antara negara dan komunitas akademik Indonesia.

Ke depan, pertemuan semacam ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda simbolik, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret yang menghasilkan kebijakan publik berkualitas, inklusif, dan berbasis ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa.

Terkini